IPEH, SANG JAGOAN MENGHAFAL



IPEH, demikian bocah perempuan ini biasa disapa. Terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dengan nama Diva Ananda, pada 5 April sepuluh tahun yang lalu. Latar belakang ekonomi keluarganya terbilang sangat kekurangan. Ayahnya yang bernama Hendrik adalah seorang pengamen jalanan di Kota Tegal, Jawa Tengah. Sedang ibunya bernama Marya (telah meninggal dunia sejak Ipeh kecil karena penyakit diabetes) seorang ibu rumah tangga biasa. Penghasilan Ayah Ipeh sebagai pengamen tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga dengan empat anak.
Sepeninggal almarhumah ibunya, Ipeh dan ketiga saudaranya pun kembali menerima kenyataan pahit. Sang Ayah menikah lagi dan pergi meninggalkan rumah tanpa mempedulikan mereka. Bersyukur, karena saat itu kakak Ipeh masih cukup tabah berjuang mencari penghidupan untuk keluarga mereka.
Namun ketika sang kakak telah berkeluarga, kondisi ekonomi yang begitu pas-pasan membuatnya tak sanggup lagi untuk merawat Ipeh. Ipeh akhirnya dititipkan pada sang nenek yang sudah renta dan dengan kondisi ekonomi yang juga sangat terbatas.
Selanjutnya Ipeh hidup dalam asuhan sang nenek. Keadaan yang serba kekurangan, membuat sang nenek tak mampu menyekolahkan sang cucu ketika usia Ipeh memasuki tujuh tahun. Jangankan untuk sekolah, bahkan untuk makan dan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari lainnya saja sering didapat dari pemberian tetangga.
Namun meski hidup serba kekurangan, Ipeh amat menyayangi neneknya. Bagi Ipeh, saat itu hanya neneknya lah satu-satunya tempatnya berlindung dan berbagi kasih sayang.
Adalah tanggung jawab kita yang oleh Allah SWT dianugerahi amanah rezeki yang berlebih, untuk mengulurkan tangan guna membantu anak-anak tersebut mewujudkan cita-citanya. Sesungguhnya harta yang kita sedekahkan di jalan Allah tidak akan pernah berkurang, bahkan akan bertambah. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:
"Bertambah… bertambah… bertambah.” (HR.At-tirmidzi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini